The miniature Borobudur stupa at Brahmavihara Arama with monks leading meditation

Didirikan 1958

Tentang Vihara

Makna Nama Kami

Nama kami berasal dari tiga kata: Brahma, yang luhur; Vihara, cara hidup; dan Arama, tempat tinggal. Bersama-sama bermakna “tempat tinggal yang luhur” — sekaligus merujuk pada Brahmavihara dalam Kanon Pali, yaitu empat keadaan batin tak terbatas: Cinta Kasih (Metta), Welas Asih (Karuna), Kegembiraan Simpatik (Mudita), dan Keseimbangan Batin (Upekkha).

Sebuah Perjalanan Iman

Kisah kami bermula dari sebuah perjalanan yang ditempuh untuk mewakili orang lain. Pada 1956, guru spiritual Bali Ida Ketut Jelantik diundang ke perayaan Waisak di Watugong, Semarang. Karena berhalangan, ia mengutus keponakannya, Ida Bagus Giri, untuk pergi menggantikannya. Pemuda yang kembali ke Bali itu telah menemukan arah hidupnya.

Pada 1958 ia memimpin sekelompok kecil praktisi bermeditasi bersama di kawasan Air Panas Banjar, di atas tanah pinjaman. Kelak ia ditahbiskan sebagai bhikkhu di Bangkok dengan nama Girirakkhito — “penjaga gunung”. Ketika umat kian bertambah dan keramaian di sekitar pemandian membuat keheningan sulit dijaga, ia mencari tempat yang lebih tinggi dan lebih sunyi.

Pada 1969 ia memperoleh tanah di perbukitan Banjar Tegeha. Pembangunan dimulai November 1970, dan pada 21 Mei 1971 vihara mulai digunakan di tempatnya berdiri hingga kini. Gempa bumi merusak kompleks ini pada 1976; dengan sabar ia dibangun kembali. Kini Brahmavihara Arama adalah vihara Buddha terbesar di Bali — sanctuary Theravada di tengah pulau dengan sekitar dua puluh ribu pura Hindu, dan tetap menjadi komunitas yang hidup, bukan sekadar monumen.

1958

Tahun Berdiri

Pendiri Kami

Bhikkhu Girirakkhito Mahathera

Lahir Ida Bagus Giri · 12 Januari 1927 – 5 Januari 1997

Lahir dari keluarga Brahmana di Banjar, Buleleng — kecamatan yang sama tempat vihara ini kini berdiri — Ida Bagus Giri menempuh jalan panjang sebelum mengenakan jubah. Ia menikah dan membesarkan lima anak, berdagang kopi dan mobil hingga ke Jawa dan Sumatera, dan pada 1946 mendirikan kelompok musik dan drama yang tampil untuk Jawatan Penerangan Provinsi selama lebih dari satu dasawarsa.

Ia menerima upasampada sebagai bhikkhu di Bangkok pada 15 November 1966 dan menerima nama Girirakkhito, “penjaga gunung”. Ia kemudian menjabat Ketua Walubi sejak 1982 hingga akhir hayatnya, serta Wakil Presiden World Buddhist Sangha Council. Ia dikenang di seluruh Indonesia sebagai tokoh perintis kebangkitan Buddha di tanah air — dan oleh banyak orang, lewat lagu-lagu Waisak gubahannya yang masih dinyanyikan hingga hari ini.

Lini Masa

  1. 1958

    Sekelompok praktisi mulai bermeditasi bersama di kawasan Air Panas Banjar, di atas tanah pinjaman.

  2. 1966

    Ida Bagus Giri ditahbiskan sebagai bhikkhu di Bangkok dan menerima nama Girirakkhito.

  3. 1969

    Tanah di perbukitan Banjar Tegeha diperoleh demi tempat yang lebih sunyi.

  4. 1970

    Pembangunan vihara yang sekarang dimulai pada bulan November.

  5. 1971

    Vihara mulai digunakan untuk ibadah dan praktik pada 21 Mei.

  6. 1976

    Gempa bumi merusak kompleks vihara; pembangunan kembali menyusul.

  7. 1999

    Miniatur Borobudur dibangun di titik tertinggi, sebagai penghormatan kepada sang pendiri.

Keagungan Arsitektur

Berdiri di lereng bukit di atas Banjar Tegeha, kompleks ini menanjak melalui tiga halaman berundak — pendakian yang mencerminkan jalan menuju pencerahan, sekaligus membuka pemandangan laut dan pegunungan utara.

Borobudur Mini

Borobudur Mini

Dibangun pada 1999 sebagai penghormatan kepada pendiri kami, sebuah gubahan berskala kecil dari monumen agung di Jawa, digunakan untuk pradaksina dan meditasi.

Harmoni Hindu-Buddha

Kerajinan batu Bali dan motif dari warisan Hindu pulau ini berpadu dengan simbolisme Buddha di seluruh kompleks — warisan sinkretisme Siwa-Buddha yang telah lama hadir di Bali.

A practitioner in prayer during morning meditation

Misi Kami

Misi Kami

Menyediakan ruang suci untuk meditasi Vipassana dan studi Dharma, menumbuhkan kedamaian bagi semua makhluk.

Terbuka untuk Semua

Vihara menyambut praktisi dari segala latar belakang. Retret telah lama diajarkan dalam bahasa Inggris maupun Indonesia, dan pengunjung dari semua keyakinan diterima dengan tangan terbuka.

Pengelolaan

Brahmavihara Arama dikelola oleh Yayasan Giri Rakito Mahetara, yayasan yang dinamai sesuai pendiri kami, yang melanjutkan karya yang beliau rintis.

Rencanakan Kunjungan Anda

Kami menyambut pengunjung dari semua keyakinan untuk merasakan kedamaian vihara kami. Untuk menjaga suasana meditatif, kami mohon Anda mengikuti panduan sederhana kami.

Jam Buka

Setiap hari: 06.00 – 18.00

Lokasi

Banjar, Buleleng, Bali Utara

Aturan Pengunjung

  • Berpakaian sopan (bahu dan lutut tertutup).
  • Kain sarung tersedia untuk dipinjam di pintu masuk.
  • Jaga keheningan di area meditasi.
  • Fotografi diperbolehkan, tetapi mohon menghormati.